Jumat, 24 Maret 2017

TSAWUF DALAM ISLAM, IAIN PALU

TASAWUF



KELOMPOK I

MUH. SAMSUL HUDA
NIM : 153090019

DISPIANA
NIM :153090016

NUR WAHIDAH
NIM :133070035


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI PALU
FAKULTAS SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM
AKHWAL SYAKSIAH
BAB I
PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG MASALAH
Al-Qur`an dan hadis bukanlah sebuah aturan-aturan kaku yang membatasi ruang gerak manusia. Al-Qur`an dan hadis adalah panduan hidup yang menggiring manusia menuju ketentraman, kedamaian dan kebahagiaan. Kebahagiaan yang sempurna adalah kebahagiaan yang meliputi dua dimensi, yaitu dimensi dunia dan dimensi akhirat. Kebahagiaan di dunia dapat dirasakan dengan jiwa yang tentram. Kebahagiaan akhirat adalah kebahagiaan bertemu dan berkomunikasi dengan Allah. Berkomunikasi bukan dalam arti melalui panca indra dan organ tubuh yang dimiliki manusia, tetapi proses komunikasi yang dilakukan antara jiwa suci dengan jiwa Yang Maha Suci. Suatu kebahagiaan yang luar biasa dan anugrah yang tiada tara. Mengikat lingkaran rohani dengan Allah merupakan tujuan akhir kehidupan manusia. Kehidupan yang berlandaskan rohani dan fitrah yang diciptakan Allah disebut dengan kehidupan yang hakiki. Sedangkan kehidupan yang hanya bersandarkan kepada materi saja adalah kehidupan yang semu. Oleh karena itu manusia pada dasarnya adalah suci, maka kegiatan yang dilakukan oleh sebagian manusia untuk mensucikan diri merupakan naluri manusia. Usaha yang mengarah kepada pensucian jiwa terdapat di dalam kehidupan tasawuf.
Tasawuf merupakan suatu ajaran untuk mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Allah bahkan kalau bisa menyatu dengan Allah melalui jalan dan cara, yaitu maqâmât dan ahwâl. Dalam perkembangannya tasawuf mendapatkan berbagai kendala, ada pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf bukan berasal dari Islam itu sendiri tetapi merupakan pengaruh dari ajaran-ajarn agama lain. Untuk lebih jelasnya, dalam makalah ini akan dicoba memaparkan beberapa persoalan yang berhubungan dengan asal usul tasawuf, pengertian
B. TUJUAN PENULISAN
• Memahami konsep tasawuf
• Mengenal tasawuf
• Sebagai bahan pelatihan mahasiswa
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN TASAWUF
Pengertian tasawuf pada maknanya menempuh hidup yang zuhud, menghindari gemerlap kehidupan duniawi, rela hidup dalam keprihatinan, melakukan berbagai jenis amalan ibadah, melaparkan diri, mengerjakan shalat malam, dan melantunkan berbagai jenis wirit sampai fisik atau dimensi jasmani seseorang menjadi lemah dan dimensi jiwa atau rohani menjadi kuat.
Pengertian tasawuf menurut bnahasa etimologi, para ahli berselisih tentang asal kata tasawuf antara lain :
1. Shuffah (serambi tempat duduk ) yakni serambi masjid nabawi di madinah yang di sediakan untuk orang-orang yang belum mempunyai tempat tinggal dan kehalangan muhajirin di masa Rasulullah SAW. Mereka biasa di panggil ahli shuffah (pemilik serambi) karena di serambi masjid itulah mereka bernaung.
2. Shafft (barisan) : karena kaum suffi mempunyai Iman kuat, Jiwa bersih, ikhlas, dan senang tiasa memilih barisan paling depan dalam sholat berjamaah atau dalam perang suci.
3. Saffah : bersih atau jernih
4. Shuffana : sebutan nama kayu yang bertahan tumbuh di padang pasir.
5. Shuf (buludomba ) : disebabkan karena kaum suffi biasa menggunakan pakaian bulu domba yang kasar, sebagai lambing akan kerendahan hati mereka,juga menghindari sifat sombong, serta meninggalkan usaha-usaha yang bersifat duniawi. Orang yang berpakaian bulu domba di sebut “Mutashawwif”,sedangkan perilakunya di sebut “tasawwuf”.
6. Teoshofi “ilmu ketuhanan”. Tetapi yang terakhir ini tidak di setujui oleh H.A.R.GYBB. dia cenderung kata tasawuf berasal dari Shuff (bulu domba)

B. PENGERTIAN TASAWUF MENURUT PARA AHLI

1. Syekh Abdul Qadir al-Jailani berpendapat tasawuf adalah mensucikan hati dan melepaskan nafsu dari pangkalnya denngan khalawt, riyadloh, taubah dan ikhlas

2. Syekh Muhammad Al-kurdi Tasawuf adalah suatu Ilmu yang dengannya dapat di ketahui hal ikhwal (perbuatan) kebaikan dan keburukan jiwa, cara membersihkannya dari (sifat-sifat yang buruk) dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji, cara melakukan suluk, melangkah menuju keridhoan Allah dan meninggalkan larangannya menuju larangan.
3. Imam ghozali dalam kitab ikhya’ulumuddin, tasawuf adalah ilmu yang membahas cara-cara seseorang mendekatkan diri lkepada Allah SWT. Tasawuf adalah budi pekerti barang siapa yang memberikan budi pekerti atasmu, berarti ia memberikan bekal atasdirimu dalam bertasawuf, maka hamba yang jiwanya menerima (perintah) untuk beramal bahwa sesungguhnya mereka melakukan suluk dengan nur ( petunjuk ). Islam dan ahli Zuhud yang jiwannya menerima (printah) untuk melakukan beberapa akhlak (terpuji), karena mereka telah melakukan suluk nur dengan nur (petunjuk) imannya.
4. Mahmud Amin an Nawawi, Mengemukakan pendapat Al-junaid Al baqdadi yang mengemukakan. Tasawuf adalah memelihara (menggunakan) waktu. Kemudian berkata : seorang hamba toidak akan menekuni amalan tasawuf tanpa aturan, (menganggap) tidak tepat (ibadahnya) tanpa tertuju pada tuhannya dan merasa tidak berhubungan dengan tuhannya tanpa menggunakan waktu (untuk beribadah pada tuhannya)
5. Su-suhrawardi, Mengungkapkan pedapat ma’ruf Al-Karakhi yang mengatakan tasawuf adalah mencari hakekat dan meninggalkan sesuatu yang ada di tangan mahluk (kesenangan duniawi)
6. Harun Nasution mengemukakan bahwa tasawwuf mengemukakan kata yang bisa dihubungkan dengan kata tasawwuf ada 4 yaitu As-habus Suffah( orang-orang yang ikut nabi pindah kemadinah) Saf( barisan) sufi ( suci ) suf ( wol) semua itu bisa dihubungkan dengan tasawwuf. As-Habus Suffah ialah orang-orang muslim mekkah yang ikut Nabi hijrah kemadinah dan ia tidak mempunyai harta apapun terkecuali iman, mereka tidak punya rumah sehingga ia tidur di depan masjid madinah dengan mamakai selimut. Dari sinilah muncullah istilah tasawwuf yang menggambarkan hidup kepasraan para sahabat dalam menjalani hidup yang serba kekurangan
7. Syekh Abul Hasan asy-Syadzili (m. 1258) syekh sufi besar dari Afrika Utara, mendefinisikan tasawuf sebagai “praktik dan latihan diri melalui cinta yang dalam dan ibadah untuk mengembalikan diri kepada jalan Tuhan” 3).
8. Sahal al-Tustury (w 245)mendefinisikan tasawuf dengan “ orang yang hatinya jernih dari kotoran, penuh pemikiran, terputus hubungan dengan manusia, dan memandang antara emas dan kerikil” 4).
9. Syeikh Ahmad Zorruq (m. 1494)dari Maroko mendefinisikan tasawuf sebagai berikut:
“Ilmu yang denganya anda dapat memperbaiki hati dan menjadikannya semata-mata bagi Allah, dengan menggunakan pengetahuan anda tentang jalan islam, khususnya fiqih dan pengetahuan yang berkaitan, untuk memperbaiki amal anda dan menjaganya dalam batas-batas syariat islam agar kebijaksanaan menjadi nyata”
10. Al-Syibli, Tasawuf ialah mengabdikan diri kepada Allah SWT tanpa keluh kesah.
11. Samnun Tasawuf adalah engkau merasai engkau tidak memiliki suatupun didunia ini, dan engkau tidak dimiliki oleh siapapun di kalangan mahluk di dunia ini.
12. Al-Juarairi,Tasawuf adalah berahlak dengan ahlak yang tinggi dan meninggalkan perilaku keji.
13. Ahmad Amnun, Tasawuf adalah ketekunan dalam ibadah, hubungan langsung dengan Allah, menjauhkan diri dari kemewahan duniawi, berlaku zuhud terhadap yang diburu orang banyak dan menghindarkan diri dari mahluk di dalam kholwat untuk beribadah.
14. Ibnu Kaldum dalam buku Munajat Sufi, Tasawuf adalah sebagian ilmu dari ajaran islam yang bertujuan agar seseorang tekun beribadah dan memutuskan hubungan selain Allah hanya menghadap Allah semata, menolak hiasan-hiasan duniawi, serta membenci sesuatu yang memperdaya manusia dan menyendiri menuju jalan Allah dalam Kholwat untuk beribadah.
Kesimpulan pengertian diatas, bahwa Tasawuf adalah sebagian Ilmu ajaran islam yang membahas cara-cara seseorang mendekatkan diri kepada Allah, seperti berakhlak yang tinggi ( mulia ).,tekun dalam beribadah tanpa keluh kesah.,memutuskan hubungan selain Allah karena kita merasai tidak memiliki suatu apapun didunia ini dan kita tidak dimiliki oleh siapapun di kalangan makhluk.,menolak hiasan-hiasan duniawi seperti kelezatan dari harta benda yang biasa memperdaya manusia, dan menyendiri menuju jalan Allah dalam Kholwat ( mengasingkan diri dari keramaian dunia ) untuk beribadah.
Secara sederhana, bahwa Tasawuf adalah suatu sistem latihan dengan kesungguhan (riyadlah-mujahadah) untuk membersihkan, mempertinggi, dan memperdalam kerohanian dalam rangka mendekatkan (taqarrub) kepada Allah, sehingga dengan itu maka segala konsentrasi seseorang hanya tertuju kepada-Nya.
C. DASAR-DASAR TASAWWUF
Para pengkaji tentang tasawuf sepakat bahwasanya tasawuf berazaskan kezuhudansebagaimana yang diperaktekkan oleh Nabi Saw, dan sebahagian besar dari kalangan sahabat dan tabi’in.
Kezuhudan ini merupakan implementasi dari nash-nash al-Qur’an dan Hadis-hadis Nabi Saw yang berorientasi akhirat dan berusaha untuk menjuhkan diri dari kesenangan duniawi yang berlebihan yang bertujuan untuk mensucikan diri, bertawakkal kepada Allah Swt, takut terhadap ancaman-Nya, mengharap rahmat dan ampunan dari-Nya dan lain-lain.
Meskipun terjadi perbedaan makna dari kata sufi akan tetapi jalan yang ditempuh kaum sufi berlandasakan Islam. Diantara ayat-ayat Allah yang dijadikan landasan akan urgensi kezuhudan dalam kehidupan dunia adalah firman Allah dalam al-Qur’an yang Artinya: “Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat”. (Q.S Asy-Syuura [42] : 20).
Diantara nash-nash al-Qur’an yang mememerintahkan orang-orang beriman agar senantiasa berbekal untuk akhirat adalah firman Allah dalam Q.S al-Hadid [57] ayat: 20 yang Artinya: “Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning Kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia Ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”.
Ayat ini menandaskan bahwa kebanyakan manusia melaksanakan amalan-amalan yang menjauhkannya dari amalan-amalan yang bermanfaat untuk diri dan keluarganya, sehingga mereka dapat kita temukan menjajakan diri dalam kubangan hitamnya kesenangan dan gelapnya hawa nafus mulai dari kesenangan dalam berpakaian yang indah, tempat tinggal yang megah dan segala hal yang dapat menyenangkan hawa nafsu, berbangga-bangga dengan nasab dan banyaknya harta serta keturunan (anak dan cucu). Akan tetapi semua hal tesebut bersifat sementar dan dapat menjadi penyebab utama terseretnya seseorang kedalam azab yang sangat pedih pada hari ditegakkannya keadilan di sisi Allah, karena semua hal tersebut hanyalah kesenangan yang melalaikan, sementara rahmat Allah hanya terarah kepada mereka yang menjauhkan diri dari hal-hal yang melalaikan tersebut.
D. SEJARAH TASAWUF
Sejarah tasawuf dimulai dengan Imam Ja’far Al Shadiq ibn Muhamad Bagir ibn Ali Zainal Abidin ibn Husain ibn Ali ibn Abi Thalib. Imam Ja’far juga dianggap sebagai guru dari keempat imam Ahlulsunah yaitu Imam Abu Hanifah, Maliki, Syafi’i dan Ibn Hanbal. Ucapan – ucapan Imam Ja’far banyak disebutkan oleh para sufi seperti Fudhail ibn Iyadh Dzun Nun Al Mishri, Jabir ibn Hayyan dan Al Hallaj. Diantara imam mazhab di kalangan Ahlulsunah, Imam Maliki yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Imam Ja’far.
Kaitan Imam Ja’far dengan tasawuf, terlihat dari silsilah tarekat, seperti Naqsyabandiyah yang berujung pada Sayyidina Abubakar Al Shidiq ataupun yang berujung pada Imam Ali selalu melewati Imam Ja’far. Kakek buyut Imam Ja’far, dikenal mempunyai sifat dan sikap sebagai sufi. Bahkan (meski sulit untuk dibenarkan) beberapa ahli menyebutkan Hasan Al Bashri, sufi-zahid pertama sebagai murid Imam Ali. Sedangkan Ali Zainal Abidin (Ayah Imam Ja’far) dikenal dengan ungkapan-ungkapan cintanya kepada Allah yang tercermin pada do’anya yang berjudul “Al Shahifah Al Sajadiyyah”.
Tasawuf lahir dan berkembang sebagai suatu disiplin ilmu sejak abad k-2 H, lewat pribadi Hasan Al Bashri, Sufyan Al Tsauri, Al Harits ibn Asad Al Muhasibi, Ba Yazid Al Busthami. Tasawuf tidak pernah bebas dari kritikan dari para ulama (ahli fiqh, hadis dll).
Praktik – praktik tasawuf dimulai dari pusat kelahiran dan penyiaran agama Islam yaitu Makkah dan Madinah, jika kita lihat dari domisili tokoh-tokoh perintis yang disebutkan di atas. Di kalangan para orientalis Barat biasanya dijumpai pendapat yang mengatakan bahwa sumber yang menbentuk tasawuf itu ada lima, yaitu unsur Islam, unsur Masehi, unsur Yunani, unsur Hindu/Budha dan unsur Persia.6 Kelima unsur ini secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Unsur Islam
Secara umum ajaran Islam mengatur kehidupan yang bersifat lahiriah dan batiniah. Pada unsur kehidupan bersifat batiniah itulah kemudian lahir tasawuf. Unsur kehidupan ini mendapat perhatian yang cukup besar dari sumber ajaran Islam, Al-Qur’an dan sunnah serta praktek kehidupan Nabi dan para sahabatnya. Al-Qur’an antara lain berbicara tentang kemungkinan manusia dengan Tuhan dapat saling mencintai (mahabbah) (QS. Al-Maidah 54), perintah agar manusia senantiasa bertaubat, membersihkan diri dan memohon ampunan (QS. Al-Thamrin 8), petunjuk bahwa manusia akan senantiasa bertemu dengan Tuhan dimanapun mereka berada (QS. Al-Baqarah 110). Selanjutnya al-Qur’an mengingatkan manusia agar dalam hidupnya tidak diperbudak dunia dan harta benda (QS. Al- Hadid dan al-Fatir 5), dan senantiasa bersikap sabar dalam menjalani pendekatan diri kepada Allah (QS. Ali Imran). Sejalan dengan apa yang dibicarakan al-Qur’an diatas, Sunnahpun banyak berbicara tentang kehidupan rohaniah antara lain :Aku adalah perbendaharaan yang bersembunyi, maka aku menjadikan makhluk agar mereka mengenal-Ku.Selanjutnya didalam kehidupan Nabi Muhammad juga terdapat petunjuk yang menggambarkannya sebagai seorang sufi. Nabi telah melakukan pengasingan diri ke Gua Hira’ menjelang datangnya wahyu. Selama di Gua Hira’ ia tafakkur, beribadah dan hidup sebagai seorang yang zahid. Beliau hidup sederhana, tidak memakan atau meminum minuman kecuali yang halal.
2. Unsur Luar Islam
Dalam berbagai literatur yang ditulis para orientalis Barat sering dijumpai uraian yang menjelaskan bahwa tasawuf Islam dipengaruhi oleh unsur agama Masehi, unsur Yunani, unsur Hindu/Budha dan unsur Persia. Hal ini secara akademik bisa saja diterima, namun secara akidah perlu kehati-hatian. Para orientalis Barat menyimpulkan bahwa adanya unsur luar Islam masuk ke dalam tasawuf itu disebabkan karena secara historis agama-agama tersebut telah ada sebelum Islam. Tetapi kita tidak dapat mengatakan bahwa boleh saja orang Arab terpengaruh oleh agama-agama tersebut, namun tidak secara otomatis mempengaruhi kehidupan tasawuf, karena para penyusun ilmu tasawuf atau orang yang kelak menjadi sufi itu bukan berasal dari mereka itu. Unsur-unsur luar Islam yang diduga mempengaruhi tasawuf Islam itu adalah sebagai berikut :
a. Unsur Masehi
Dalam ajaran Kristen ada faham menjauhi dunia dan hidup mengasingkan diri dalam biara. Dalam literatur Arab yang terdapat tulisan-tulisan tentang rahib-rahib yang mengasingkan diri di padang pasir Arabiah. Dikatakan bahwa zahid dan sufi dalam Islam meninggalkan dunia, memilih hidup sederhana dan mengasingkan diri adalah atas pengaruh rahib Kristen.7
b. Unsur Yunani
Ajaran Pythagoras untuk meninggalkan dunia dan pergi berkontemplasi, menurut sebagian orang inilah yang mempengaruhi Zuhud dan tasawuf dalam Islam.8 Filsafat mistik Phytagoras mengatakan bahwa roh manusia bersifat kekal dan berada di dunia sebagai orang asing. Kesenangan roh yang sebenarnya berada di alam samawi.
c. Unsur Hindu/Budha
Dalam ajaran Budha dinyatakan bahwa untuk mencapai nirwana orang harus meninggalkan dunia dan memasuki hidup kontemplasi. Faham fana’ yang terdapat dalam tasawuf hampir serupa dengan faham nirwana.Dalam ajaran Hindu juga dianjurkan agar manusia meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan.
d. Unsur Persia
Diantara para orientalis ada yang berpendapat bahwa tasawuf berasal dari Persia, karena sebagian tokohnya berasal dari Persia, seperti Ma’ruf al-Karkhi dan Abu Yazid al-Bustami. Pendapat ini tidak mempunyai pijakan yang kuat, karena perkembangan tasawuf tidak sekedar upaya mereka saja. Banyak para sufi Arab yang hidup di Syria, bahkan di kawasan Afrika (Maroko), seperti al-Darani, Zu al-Nun al-Misri dan lain-lain.9
E. ASAL USUL AJARAN SUFISME
Berhubungan dengan kemunculan pertama kali aliran sufi, kata ‘sufi’ tidak dikenal pada jaman shahabat, lebih-lebih kata tersebut tidak diketahui dalam tiga generasi pertama yang terbaik. Istilah tersebut dikenal setelah penghujung tiga generasi pertama. Kemunculan pertama aliran sufi di Basrah, ‘Iraq. Dimana beberapa orang ingin berlebih-lebihan dalam ibadah dan dalam menghindari kehidupan keduniaan, sebagaimana tidak ditemukan di tempat lain.
Ketika aliran sufi pertama muncul tidaklah ada ciri khusus mereka yang sangat jelas, tetapi hanya sebuah masalah mulai berlebihan dalam meninggalkan kehidupan dunia, dan terus-menerus dalam dzikir (mengingat Allah) dan membiasakan dengan rasa khouf (takut) yang berlebihan dalam mengingat Allah yang kadang mengakibatkan seseorang pingsan atau mati ketika mendengar sebuah ayat yang menyebutkan sebuah ancaman adzab/siksa.
Menurut para pengikut sufiyah bahwa nas-nas Al-Kitab dan Sunnah, itu mempunyai yang zhohir (mempunyai makna tersurat yang jelas) dan yang bathin (pengertian tersirat yang tersembunyi)… kelihatan bahwa sangat jelas mereka mengambil gagasan ini dari Bathiniyah. Sehingga semua jenis gagasan ini dicampur, dimulai dari sikap berlebihan dalam meninggalkan kehidupan dunia sampai membuka pintu bid’ah gagasan bahwa ketuhanan bersemayam dalam makhluk, sampai gagasan bahwa semua makhluk adalah satu hakikat, yang merupakan Allah (wihdatul wujud). Dari percampuran semua pemikiran ini lahir aliran sufi, yang muncul dalam Islam. Aliran ini berkembang pada abad empat dan lima dan mencapai puncaknya setelah itu, yang semakin jauh dari petunjuk Al-Qur’an Al-Karim dan Sunnah yang murni. Sampai para pengikut aliran sufi menyebut semua yang mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah sebagai ‘ahli syari’at’ dan ‘ahli tekstual’ (ahlul-dhaahir), sedangkan mereka menyebut diri mereka sebagai ‘ahli hakikat’ dan ‘orang yang punya pengetahuan tersembunyi’ (ahlul-batin).

F. PANDANGAN ISLAM TENTANG TASAWUF
Pandangan Islam tentang tasawuf adalah upaya seorang mukmin dalam mendekatkan diri kepada Allah dengan cara mensucikan diri dari perbuatan-perbuatan yang tercela kemudian diisi dengan perbuatan yang terpuji guna mendapatkan ridha dari Allah SWT.
Tasawuf juga mempunyai identitas sendiri dimana orang-orang yang menekuninya tidak menaruh perhatian yang besar terhadap dunia atau bahkan memutuskan hubungannya dengan dunia. Disamping itu ajaran tasawuf juga selalu didominasi oleh ajaran-ajaran seperti khauf dan raja’, at-taubah, al-zuhud, al-tawwakal, al-syukr, al-shabr, al-ridha, dan lainnya yang notabenenya sangat dianjurkan dalam Islam. Didalam Al-Qur’anjuga telah banyak ayat-ayat yang memerintahkan kepada setiap mukmin untuk melakukan semua hal ihwal yang ada dalam ajaran tasawuf tersebut.
Seperti firman Allah SWT. Tentang anjuran untuk berserah diri kepada Allah, bersyukur terhadap pemberian-pemberian Allah, bersabar serta ridha kepadanya yang berbunyi:

فَا صْبِرْ اِنّ وَعْدَ اللٌّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَ نْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِا لْعَشِيَ ولْاِبْكَرِ

Artinya: “maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi”. (Q.S al-Mu’minun: 55)

Selain ayat diatas masih banyak lagi ayat-ayat al-Qur’an yang lain yang mengajarkan umat manusia untuk selalu beribadah dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Asalkan dengan jalan yang benar dan sesuai dengan tuntunan sunnah Rasulullah SAW.


Sebagaimana sabda beliau yang artinya:
“Apa yang terjadi dengan orang yang mengatakan demikian dan demikian. Saya berpuasa tetapi saya berbuka, saya sholat malam tapi saya juga tidur, dan saya menikahi wanita. Barangsiapa membenci sunnahku, maka dia bukan golonganku.”(HR. Bukhori dan Muslim).
Jadi walau bagaimana pun juga Islam tetap memandang baik semua ajaran-ajaran yang ada didalam tasawuf itu asalkan dilakukan dengan cara dan jalan yang sesuai dengan apa yang telah ditetapkan Allah didalam kitab-Nya (Al-Qur’an) dan sunnah











BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
sebagian Ilmu ajaran islam yang membahas cara-cara seseorang mendekatkan diri kepada Allah, seperti berakhlak yang tinggi ( mulia ).,tekun dalam beribadah tanpa keluh kesah.,memutuskan hubungan selain Allah karena kita merasai tidak memiliki suatu apapun didunia ini dan kita tidak dimiliki oleh siapapun di kalangan makhluk.,menolak hiasan-hiasan duniawi seperti kelezatan dari harta benda yang biasa memperdaya manusia, dan menyendiri menuju jalan Allah dalam Kholwat ( mengasingkan diri dari keramaian dunia ) untuk beribadah.
Menurut para pengikut sufiyah bahwa nas-nas Al-Kitab dan Sunnah, itu mempunyai yang zhohir (mempunyai makna tersurat yang jelas) dan yang bathin (pengertian tersirat yang tersembunyi)… kelihatan bahwa sangat jelas mereka mengambil gagasan ini dari Bathiniyah. Sehingga semua jenis gagasan ini dicampur, dimulai dari sikap berlebihan dalam meninggalkan kehidupan dunia sampai membuka pintu bid’ah gagasan bahwa ketuhanan bersemayam dalam makhluk, sampai gagasan bahwa semua makhluk adalah satu hakikat, yang merupakan Allah (wihdatul wujud). Dari percampuran semua pemikiran ini lahir aliran sufi, yang muncul dalam Islam.

B. REFERENSI
o Hilal Ibrahim, Tasawuf antara Agama dan Filsafat, pustaka hidayah,2002
o Situspendidikanagamaislam.com
o http://www.masukislam.com

posted from Bloggeroid

MAKALAH SEJARAH FPI

FRONT PEMBELA ISLAM




OLEH :
MUH. SAMSUL HUDA
15 3 09 0019








AKHWAL SYAKSIYAH
FAKULTAS SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI PALU



KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum wr. Wb
Puji syukur penulis haturkan kepada Allah SWT. Yang telah memberikan kenikmatan ilmu dan kesehatan sehingga penulis bisa menjalani kehidupannya hingga di bangku kuliah ini, sholawat serta salam kita haturkan kehadirat Nabi besar Muhammad SAW. Yang mana beliau telah mengajakan kita tentang kehidupan yang lebih berkelas dan lebih bermakna.h
Ucapan terimakasih juga disampaikan kepada dosen pembimbing yang mana tanpa adanya beliau penulis tidak akan dapat ilmu yang mana penulis tuangkan dalam makalah ini, makalah ini di harapkan agar penulis dan mahasiswa dapat mengetahui apa makna yang terkandung dalam makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, kritik dan saran sangat penulis harapkan demi mendekti kesempurnaan makalah ini, kurang lebihnya penulis selaku manusia biasa mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya.
Wassalamu alaikum Wr.Wb


TTD

PENULIS







BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Fron Pembela Islam (FPI) merupakan salah satu organisasi islam yang cukup penting pasca reformasi Indonesia. Gerakannya yang kerap diwujudkan dalam tindakan –tindakan dan aksi-aksi yang radikal telah menimbulkan ketakutan dan bahkan menjadi momok bagi sebagian anggota masyarakat. FPI termasuk salah satu kelompok Islam fundamentalis. Jargon-jargon yang mereka pakai memang tidak jauh dari doktrin pembelaan kalimat Allah, lebih khusus lagi pemberlakuan syariat islam, dan penolakan mereka terhadap Barat. Organisasi ini dengan cepat dikenal masyarakat sejak beberapa tahun belakangan. Hal ini berhubungan erat dengan kegiatan utama mereka, yaitu merazia tempat-tempat hiburan yang mereka percaya sebagai sarang maksiat seperti klub malam, diskotik, kafe, dan kasino.
Kemunculan gerakan islam radikal ini disebabkan oleh dua factor:yang pertama Faktor internal dari dalam umat Islam itu sendiri. Factor ini dilandasi oleh kondisi internal umat islam sendiri telah terjadi penyimpangan norma-norma agama.yang kedua Factor eksternal diluar umat Islam, baik yang dilakukan rezim penguasa maupun hegomoni barat. Seperti di Ambon dan praktik kemaksiatan yang terjadi di masyarakat, telah mendorong gerakan islam bahwa syari’at islam adalah solusi terbaik terhadap krisis. Pada giliranyya, radikalisme dijadikan sebagai jawaban atas lemahnya aparat penegak hokum dalam enyelesaikan kasus yang terkait dengan umat Islam. Dalam hal ini FPI menjadi gerakan amar ma;ruf nahi munkar terhadap segala praktik kemaksiatan dan Laskar Jihad di Ambon menjadi gerakan yang berada di belakang umat Islam Ambon yang sedang menghadapi konflik SARA.

B. TUJUAN
1. Sebagai bahan diskusi
2. Untuk memahami makna dari FPI
3. Sebagai objek kajian




BAB II
PEMBAHASAN


A. SEJARAH FPI

FPI dideklarasikan pada 17 Agustus 1998 (atau 24 Rabiuts Tsani 1419 H) di halaman Pondok Pesantren Al Um, Kampung Utan,Ciputat, di Selatan Jakarta oleh sejumlah Habib, Ulama, Mubaligh dan Aktivis Muslim dan disaksikan ratusan santri yang berasal dari daerah Jabotabek. Pendirian organisasi ini hanya empat bulan setelah Presiden Soeharto mundur dari jabatannya, karena pada saat pemerintahan orde baru presiden tidak mentoleransi tindakan ekstrimis dalam bentuk apapun. FPI pun berdiri dengan tujuan untuk menegakkan hukum Islam di negara sekuler.
Organisasi ini dibentuk dengan tujuan menjadi wadah kerja sama antara ulama dan umat dalam menegakkan Amar Ma'ruf dan Nahi Munkar di setiap aspek kehidupan.
Latar belakang pendirian FPI sebagaimana diklaim oleh organisasi tersebut antara lain:
1. Adanya penderitaan panjang ummat Islam di Indonesia karena lemahnya kontrol sosial penguasa sipil maupun militer akibat banyaknya pelanggaran HAM yang dilakukan oleh oknum penguasa.
2. Adanya kemungkaran dan kemaksiatan yang semakin merajalela di seluruh sektor kehidupan.
3. Adanya kewajiban untuk menjaga dan mempertahankan harkat dan martabat Islam serta ummat Islam.
Pada tahun 2002 pada tablig akbar ulang tahun FPI yang juga dihadiri oleh mantan Menteri Agama dan terdakwa kasus korupsi Dana Abadi Umat (DAU), Said Agil Husin Al Munawar, FPI menuntut agar syariat Islam dimasukkan pada pasal 29 UUD 45 yang berbunyi, "Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa" dengan menambahkan "kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya" seperti yang tertera pada butir pertama dari Piagam Jakarta yang dirumuskan pada tanggal 22 Juni 1945 ke dalam amendemen UUD 1945 yang sedang di bahas di MPR sambil membawa spanduk bertuliskan "Syariat Islam atau Disintegrasi Bangsa".
Namun Anggota Dewan Penasihat Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) Dr. J. Soedjati Djiwandono berpendapat bahwa dimasukkannya tujuh kata Piagam Jakarta ke dalam UUD 1945 yang diamendemen, justru dikhawatirkan akan memecah belah kesatuan bangsa dan negara, mengingat karekteristik bangsa yang majemuk.
Pembentukan organisasi yang memperjuangkan syariat Islam dan bukan Pancasila inilah yang kemudian menjadi wacana pemerintah Indonesia untuk membubarkan ormas Islam yang bermasalah pada tahun 2006.

B. STRUKTUR ORGANISASI

1. Dewan Pimpinan Pusat, sebagai pengurus organisasi berskala nasional
• Ketua Majelis Syura DPP FPI: Hb. Muhsin Ahmad Al-Attas
• Ketua Majelis Tanfidzi DPP FPI: Habib Rizieq (2003-2008)
2. Dewan Pimpinan Daerah, sebagai pengurus organisasi berskala provinsi
• Ketua FPI bagian Surakarta (disingkatFPIS) adalah Abu Bakar Ba'asyir [6]
3. Dewan Pimpinan Wilayah, sebagai pengurus organisasi berskala Kota/Kabupaten
4. Dewan Pimpinan Cabang, sebagai pengurus organisasi berskala kecamatan.
C. TUJUAN / AKSI FPI
Sebagaimana tertulis dalam dokumen risalah historis dan garis perjuangan FPI, tujuan berdirinya FPI adalah untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dlam mencapai amar ma’ruf, FPI mengutamakan dengan metode bijaksana dan lemah lembut melalui langkah-langkah :mengajak dengan hikmah (kebijaksanaan, lemah lembut) memmberi mau’idzah hasanah (nasihat yang baik), dan berdiskusi dengan cara yang terbaik. Sedangkan dalam melakukan nahi munkar,FPI mengutamakan sikap yang tegas melalui langkah-langkah:menggunakan kekuatan/kekuasaan bila mampu dilakukan maka nahi munkardilakukan dengan menggunakan hati, yang tertuang dalam ketegasan sikap untuk tidak menyetujui segala bentuk kemungkaran.
Tujuan lain terbentuknya FPI adalah untuk membantu pemerintah dalam menumpas problem sosialkemasyarakatan ,seperti prostitusi,perjudian,serta transaksi miras dan narkoba, FPI menjadi sangat terkenal karena aksi-aksinya yang kontroversial sejak tahun 1998, terutama yang dilakukan oleh laskar paramiliternya yakni Laskar Pembela Islam. Rangkaian aksi penutupan klab malam, tempat pelacuran dan tempat-tempat yang diklaim sebagai tempat maksiat, ancaman terhadap warga negara tertentu, penangkapan (sweeping) terhadap warga negara tertentu, konflik dengan organisasi berbasis agama lain adalah wajah FPI yang paling sering diperlihatkan dalam media massa.
Walaupun disamping aksi-aksi kontroversial tersebut FPI juga melibatkan diri dalam aksi-aksi kemanusiaan antara lain pengiriman relawan ke daerah bencana tsunami di Aceh, bantuan relawan dan logistik saat bencana gempa di Padang dan beberapa aktivitas kemanusiaan lainnya, yang menurut Ketua Majelis Tanfidz FPI jarang diekspos oleh media nasional.
Tindakan FPI sering dikritik berbagai pihak karena tindakan main hakim sendiri yang berujung pada perusakan hak milik orang lain. Pernyataan bahwa seharusnya Polri adalah satu-satunya intitusi yang berhak melakukan hal tersebut dijawab dengan pernyataan bahwa Polri tidak memiliki insiatif untuk melakukannya.
Rizieq, sebagai ketua FPI, menyatakan bahwa FPI merupakan gerakan lugas dan tanpa kompromi sebagai cermin dari ketegaran prinsip dan sikap. Menurut Rizieq kekerasan yang dilakukan FPI dikarenakan kemandulan dalam sistem penegakan hukum dan berkata bahwa FPI akan mundur bila hukum sudah ditegakkan. Ia menolak anggapan bahwa beberapa pihak menyatakan FPI anarkis dan kekerasan yang dilakukannya merupakan cermin kebengisan hati dan kekasaran sikap.
D. RIWAYAT HIDUP PENDIRI FPI
Nama lengkapnya adalah Habib Muhammad Rizieq ibn Husein Shihab. Lahir di Jakarta pada 24Agustus 1965,Habib Rizieq _demikianlah ia biasa dipanggil _berasal dari keluarga Arab yang aktif dalam pergerakan. Ayahnya, Sayyid Husein,bersama kawan-kawannya pada sekitar tahun 1937, mendirikan Pandu Arab Indonesia (PAI ), suatu perkumpulan kepanduan yang didirikan oleh orang Indonesia keturunan Arab yang berkedudukan di Jakarta, yang selanjutya menjadi Pandu Islam Indonesia(PII). Tumbuh di lingkungan keluarga Arab, Rizieq sejak awal akrab dengan pendidikan agama Islam. Di samping memasuki sekolah formal, sebagaimanalayaknyamasyarakat Indonesia, orang tua Rizieq senantiasa menekankan pentingnya agama dalam kehidupan. Oleh karena itu, selepas SMU Rizieq diharapkan dan ia memenuhinya, melanjutkan pendidikan di Timur Tengah. Setelah beberapa tahun belajar bahasa arabdan ilmu-ilmu Islam lainnya di LPIA, Rizieq akhirya bias melanjutkan pendidikannya di Arab Saudi.
Demikianlah, Rizieqkemudian melanjutkan sekolahnya di jenjang S1di king Saud University, Riyadh, Arab Saudipada jurusan hukum Islam. Rizieqberhasil menyelesaikan studinya pada pertengahan 1990. Setelah menamatkat pendidikannya, ia mengajar di sebuah SLA di Riyadh yang di jalani selama setahun. Pada 1992 ia pulang ke Indonesia. Pada pertengahan 1993 ia mendapatkan beasiswa S2 di Uiversitas Antar bangsa Malaysia, namun setelah satu semester ia memutuskan untuk kembali ke tanah air dan meneruskan kegiatan dakwahnya. Dan kegiatan inlah yang digeluti sampai sekarang.
E. ASAS PERJUANGAN FPI
FPI merupakan organisasi lintas organisasi keagamaan dan lintas partai. Sepanjang masih menganut paham ahlussunnah waljama’ah, seseorang bisa menjadi anggota FPI. Dalam konteks ini,ahlussunnnah waljama’ah ditafsirkan sebagai paham keagamaan dengan pengertiannya yang luas meliputi siapapun dan kelompok manapun selama yang bersangkutan berpedoman pada Alqur’an, Hadits, Ijma’,dan Qiyas sebagai sumber hukum. FPI mengakui keragaman madzhab keagamaan seperti yang ada dalam khazanah keilmuan Islam, yaitu madzhab Hanafi, Maliki,Syafi’I, dan Hambali. Al qur’an merupkan rujukan utama, sementara sunnah rosul merupakan sumber kedua yang menjadi hujjah agama. FPI merupakan prinsip perjuangan amar ma’ruf nahi munkar. Rujukan ini di dasarkan pada dalil Al qur’an yang menyatakan adanya perintah tersebut(QS.Ali imron[3]:104,110). Dengan landasan tersebut, FPI mencoba merangkainya menjadi sebuah metode perjuangan. Dalam melakukan metode amar ma’ruf, FPI mengutamakan metode lemah lembut, sementara dalam menegakkan nahi munkarmengutamakan metode yang keras dan tegas.
Sementara pedoman organisasi FPI sebagaimana termaktub dalam AD/ ART jo ART Pasal 3, disebutkan bahwa beriman kepada Allah adalah tujuan tertinggi, Nabi Muhammad adalah teladan, Al qur’an adalah pedoman yang tertinggi; jihad adalah jalan hidup yang harus ditempuh; dan syahid adalah cita-cita yang senantiasa didambakan. Atas dasar pedomanini,lahir sebuah sembohyan yang terkenal,”hidup mulia atau mati syahid.
F. FAHAM KEAGAMAAN FPI
Azaz FPI adalah Islam alaAhlussunah wal Jamaah(Aswaja).Menurut para pemimpin FPI ,Aswaja yang dipahami oleh FPI tidaklah sama dengan yang dipahami oleh kalangan NU maupun Muhammadiyah.Aswaja yang dipahami para aktivis FPI lebih mendekati pemahaman Aswaja menurut kelompok Salafi yang dipimpin oleh Ustadz Ja’far Umar Thalib di Yogyakarta.Mmenurut kelompok ini,Aswaja adalah mereka yang telah sepakat untuk berpegang dengan kebenaran yang pasti sebagai mana tertera dalam Al-Qur’an dan al-hadits dan mereka itu adalah para sahabat dan tabi’in.
Terdapat enam hal yang dijadikanalasan mengapa kaum Salafi,dimana FPI termasuk didalamnya ,selalu merujuk kepada para sahabat antara lain:
1. Para sahabat nabi adalah orang-orang yang dicintai Allah dan mereka pun sangat cinta kepada Allah (QS.al-Fath:18)
2. Para sahabat nabi adalah umat yang adil,yang dibimbing langsung oleh Rasulullah dan menjadi pembimbingt sekalian umat manusia setelah rasul meninggal (QS.al-Baqarah:143)
3. Para sahabat adalah teladan utama setelah nabi (QS.al-Baqarah:137)
4. Kebaikan para sahabat tidak mungkin disamai(hadits nabi)
5. Para sahabat adlah sebaik-baiknya generasi penerus(hadits nabi)
6. Para sahabat nabi adlah orang-orang pilihan yang diciptakan Allah untuk mendampingi nabi-Nya.
Menurut kelompok ini,mengikuti jejak kaum salafus shalih harus dilakukan secara total,tanpa reserve.Apa yang dipahami ,dilakukan,dan difatwakan oleh para sahabat yang tercermin dalam diri para pemimpin agama diikuti secara utuh dan apa adanya,tidak mengurangi dan juga tidak menambah.Hal ini meliputi bidang akidah,hukum ,dan tingkah laku keseharian,seperti cara berpakaian ,makan,minum,dan shalat.Hal-hal inilah yang membedakan faham Ahlussunah wal Jamaah yang dianut oleh FPI dan kelompok Salafi pimpinan Ja’far Umar Thalib dengan pahamAhlissunah wal Jamaah yang dipahami kalangan NU dan Muhammadiyah. Meskipun paham Aswaja kelompok FPI dengan kelompok Salafi memiliki kesamaan,namun didalam penerapannya terdapat perbedaan.





BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
FPI adalah salah satu organisasi atau gerakan yang didirikan sebagai respon terhadap kondisi social politik Indonesia,y pada17 Agustud 1998 resmi didirikan dan Muhammad Habib Rizieq sabagai pelopornya sekaligus sebagai ketua umum FPI , dalam upaya untuk menegakkan amar ma’ruf nahimunkar (memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran). Dalam metode amar ma’ruf mereka menggunakan metode lemah lembut, sementara dalam

menegakkan nahi munkar mengutamakan metode yang keras dan tegas yaitu dengan merazia tempat-tempat hiburan yang mereka anggap sebagai sarang kemaksiatan.

NAMA: MUH. SAMSUL HUDA
TTL : SURABAYA 09, 09, 1993
STTS : MAHASISWA S1 IAIN PALU

posted from Bloggeroid

Rabu, 22 Maret 2017

Cara bertahan hidup di kota

Kali ini admin mau berbagi tips kepada anda bagaimana cara bertahan hidup di kota metropolitan.. ini dia tipsnya :

1. Buang segala bentuk gengsi
2. Pintar melihat peluang usaha
3. Carilah usaha yg sedikit mengeluarkan modal/tidak pakek modal
4. Hindari MLM apapun jenisnya
5. Jujur, jujur adalah modal utama agar kita slalu selamat dunia akhirat.

Nah klw anda punya smart phone bisa tuh blajar2 buat cari peluang usaha, contoh dgn meng-Instal laptop, instal laptop ini sangat mudah, karena aplikasi dan cara2 sdh ad di dalam internet...

Gak ad yg gk mungkin klw kalian mau berusaha, saya dlu jg gaptek, FB saja gk tau, tp mulailah ane blajar, instal laptop, ganti lcd hp, flashing hp, jualan pulsa, bisnis aksesoris online,

Jd harus jeli liat peluang. Semangattt...

Selasa, 21 Maret 2017

inti kebahagiaan

Semakin tingginya taraf kehidupan hingga membuat persaingan perekonomian yang sangat luar biasa. Banyak orang-orang yang mengejar kehidupan dunia tanpa memikirkan kepentingan akhirat, mereka menganggap bahwa kehidupan dunia adalah segalannya.
Kata-kata semacam ini sangat sering di dengar dengan alasan hidup hampa tanpa uang, mereka menimbun harta tanpa sadar akan siapa yg memberikan harta tersebut.
Ingatlah sebanyak apapun harta yang kita miliki jikalau tidak ada rasa syukur maka hidup kita tidak akan tenang dan merasa kekurangan, padahal jikalau kita bersyukur atas apa yang kita dapatkan, niscaya Allah akan menambahnya.
Inti dari kebahagiaan bukanlah terletak pada uang, tetapi ada di dalam hati, kebahagiaan hati, adalah harta yang sangat berharga.
Jadi belajarlah mensyukuri atas apa yg kita dapatkan.